JAKARTA, Kabar Fakta http://Indonesia.com -* Calon Kapolri baru, Komjen Pol. Suyudi Ario Seto memaparkan visi dan misi kepemimpinannya dalam uji kelayakan dan kepatutan di DPR RI. Dalam pidatonya yang tegas dan humanis, ia menekankan perubahan paradigma Polri.
“Bagi saya, jabatan Kapolri bukanlah puncak karir, jabatan Kapolri adalah puncak tanggung jawab. Karena bagi saya menjadi polisi adalah kehormatan, memimpin Polri adalah amanah dan mengabdi bersama masyarakat adalah tujuan,” tegas Suyudi di hadapan Komisi III DPR RI.
Suyudi menyampaikan komitmennya untuk melakukan reformasi kultural di tubuh Polri. Ia menegaskan tidak akan ada lagi pemaksaan target dengan cara melanggar hukum.
“Anggota tidak boleh dipaksa mencapai target dengan cara yang melanggar hukum. Sebaliknya, tidak ada tekanan pekerjaan yang dapat menjadi pembenaran untuk memeras, menerima suap, merekayasa perkara, menjadi backing kegiatan ilegal atau menggunakan kekerasan secara sewenang-wenang,” ujarnya.
Ia mengusung semangat sederhana namun tajam yang akan menjadi doktrin kepemimpinannya, yakni *4 Tidak*.
“Semangat yang ingin saya hidupkan sederhana. Tidak arogan, tidak berbohong, tidak menyalahgunakan kewenangan dan tidak menyakiti masyarakat secara sewenang-wenang,” tegasnya.
Menurut Suyudi, keberhasilan Polri ke depan tidak akan diukur dari banyaknya slogan, aplikasi, operasi, rapat atau publikasi. Namun, dari hal yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Masyarakat lebih aman, laporan lebih mudah diterima, pertolongan datang lebih cepat, korban terlindungi, hukum diterapkan adil, anggota berintegritas memiliki masa depan dan penyimpangan dapat dikoreksi tanpa harus menunggu viral,” paparnya.
Ia juga memaparkan cita-cita besarnya tentang sosok polisi ideal di mata rakyat:
“Ketika seorang anak melihat polisi ia merasa aman bukan takut. Ketika korban datang ke kantor polisi ia menemukan pertolongan bukan kerumitan. Ketika masyarakat menyampaikan kritik, polisi mampu mendengar tanpa kehilangan kewibawaan. Ketika kejahatan mengancam, polisi hadir terdepan dengan keberanian dan profesionalisme,” tuturnya.

Suyudi kemudian merumuskan makna filosofi *Polisi Bersama Masyarakat:*
Hadir untuk melindungi, dekat untuk mengayomi, cepat untuk melayani, adil dalam menegakkan hukum, terbuka untuk diawasi dan adaptif menghadapi perubahan.
“Polri yang kuat bukan karena ditakuti, melainkan karena dipercaya. Polri yang berwibawa bukan karena menjaga jarak, melainkan karena hadir bersama rakyat ketika negara dibutuhkan,” pungkasnya.
Pernyataan visi misi tersebut mendapat perhatian luas publik dan dinilai sebagai angin segar bagi reformasi Polri yang lebih humanis dan presisi.
Jurnalis isw89
