NGANJUK KABAR FAKTA INDONESIA COM Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang membawa kesejahteraan bagi generasi muda justru berujung kepanikan massal di SMAN 3 Nganjuk, Rabu (2/9/2026).
Puluhan siswa dan seorang guru mendadak dilarikan ke rumah sakit setelah mengonsumsi santapan yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Petaka bermula tak lama setelah bel istirahat berbunyi. Sebanyak 2.137 paket makanan berisi nasi goreng, ayam suwir, telur dadar, tahu bulat, acar, serta semangka didistribusikan sekitar pukul 09.30 WIB.
Namun, hanya dalam waktu dua jam usai menyantap menu tersebut, ruang kelas berubah menjadi ruang penanganan darurat.
Mulai pukul 12.00 WIB, satu per satu siswa tumbang mengeluhkan mual hebat, pusing, hingga gejala keracunan medis lainnya.
Pertolongan pertama sempat dilakukan di Puskesmas Begadung sebelum akhirnya puluhan korban harus dirujuk ke tiga rumah sakit daerah akibat kondisi yang memburuk.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun di lapangan, sebanyak 47 korban terdampak dengan sebaran perawatan medis sebagai berikut:
RSUD Nganjuk: 19 siswa
RS Bhayangkara Nganjuk: 17 siswa
RS Islam Nganjuk: 9 siswa
Terdampak Lainnya: 1 guru dan beberapa siswa masih dalam pemantauan tim medis.
Pihak sekolah melalui penanggung jawab (PIC) Pardi langsung berkoordinasi dengan tim SPPG—yang dikepalai M. Aqil Zaidan Kamil bersama ahli gizi Bilqis Nur Aini Fadlillah dan asisten lapangan Bayu Setyono—untuk menghentikan sisa distribusi serta mendata seluruh korban.

Peristiwa ini menampar sistem pengawasan keamanan pangan sekolah dan memicu gelombang desakan publik. Penyelidikan mendalam kini mengarah pada seluruh rantai pasok: mulai dari kelayakan bahan mentah, kebersihan proses pengolahan, hingga durasi serta moda distribusi makanan sebelum sampai ke meja siswa.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti insiden belum disimpulkan secara resmi. Pihak berwenang dan dinas kesehatan terkait masih melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan yang tersisa untuk memastikan apakah ada kontaminasi bakteri atau bahan berbahaya lainnya.
Sementara itu, fokus utama petugas masih tertuju pada pemulihan fisik para siswa yang kini tengah berjuang di ruang perawatan.
Jurnalis tim Redaksi investigasi
